Oleh: Laogi Mahdi
Sebelumnya di site ini kami telah menurunkan artikel yang bertajuk “Wahyu dalam Ajaran Kristen” dalam kolom Kajian Agama, kali ini kami menyuguhkan Anda artikel dengan judul “Konsep Ketuhanan dalam ALKITAB.” Guna melihat dan mencermati bagaimana ALKITAB mencirikan Tuhan di samping ciri-ciri yang banyak disebutkan oleh pengunjung site ini utamanya dari mereka yang berpegang pada pedoman Tritunggal atau Trinitas.
Umumnya ciri dan karakter Tuhan yang disampaikan oleh pengunjung site adalah mirip-mirip dengan Tuhan yang dijelaskan dalam al-Qur’an, Esa, Tunggal, Berkuasa, Pencipta, Hidup, Mahatahu, Mahaada, dan sebagainya.
Menurut Dr Thomas McElwain, ciri dan sifat yang dilekatkan pada Tuhan dalam ALKITAB yang mirip-mirip dengan ciri dan sifat yang disematkan pada Tuhan dalam al-Qur’an dapat diklaim sebagai wahyu. Ayat-ayat seperti “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami! Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!” (Yesaya 44:6-8)
“Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.” (Yesaya 45:21-22)
“Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku.” (Bilangan 32:39)
Namun, kalau kita membuka ALKITAB secara utuh, umumnya yang berkenaan dengan Tuhan, di samping karakteristik dan sifat yang dikemukakan di atas, kita juga mendapati sifat dan karakter yang tidak layak disandarkan kepada Tuhan yang Esa, Tunggal, Berkuasa, Pencipta, Hidup, Mahatahu, Mahaada dan sebagainya. Tentu pencirian dan penyifatan sedemikian tidak dapat kita katakan sebagai wahyu karena yang bersumber dari-Nya tiada yang kontradiktif dan berkebalikan interminis.
Tuhan yang dijelaskan dalam ALKITAB adalah Tuhan antropomorpik (yang memiliki sifat-sifat manusiawi), seperti memiliki badan dan rambut; dan bermukim di sebuah tempat tertentu; dan tidak tahu apa yang tersembunyi di balik sebuah pohon; dan menipu orang-orang dan melanggar janji yang Dia buat, kalah bergulat dengan Ya’qub, dan sebagainya. Melihat ciri dan sifat Tuhan sedemikian, lalu bagaimana dengan nasib manusia? Apakah manusia dapat bersandar dan berharap pada Tuhan sedemikian ketika didera masalah-masalah pelik?
Atas alasan ini, Felicien Chalet menyimpulkan dalam A Concise History of The Great Religions of The World, “Bagaimanapun, kitab ini merupakan ciptaan dan rekaan manusia. Mustahil memandangnya sebagai Firman Tuhan.”
Tuhan bagaimana sih yang dijelaskan dalam ALKITAB sehingga Chalet berkesimpulan bahwa mustahil memandang ALKITAB ini sebagai Firman Tuhan, mari kita simak bersama.
1. Dalam ALKITAB dijelaskan bahwa Tuhan berbentuk manusia
Dalam ALKITAB, sesuai dengan Kitab Kejadian 1:26-27
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
2. ALKITAB menyebutkan: Tuhan memiliki rambut dan mengenakan busana, sebagaimana dinyatakan dalam Daniel 7:9:
Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar.
3. ALKITAB menyebutkan:Tuhan memiliki kaki
Kejadian 24:10-11:
“Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah. Tetapi kepada pemuka-pemuka orang Israel itu tidaklah diulurkan-Nya tangan-Nya; mereka memandang Allah, lalu makan dan minum.”
4. ALKITAB menyebutkan: Tuhan memiliki tempat sehingga Dia dapat dilihat
Wahyu 4:2
“Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.”
5. ALKITAB menyebutkan: Tuhan berjalan
Kejadian 3:8:
“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.”
6. ALKITAB menyebutkan: Tuhan turun di suatu tempat
Keluaran 19:20:
“Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas.”
7. ALKITAB menyebutkan: Tuhan turun pada sebuah awan dan melintas di hadapan seorang manusia
Keluaran 34:5:
Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”
8. ALKITAB menyebutkan: Tuhan memilih sebuah tempat untuk Dia diami
Zabur 132:13
“Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya”
9. ALKITAB menyebutkan: Tuhan itu bodoh; Dia tidak tahu kediaman orang-orang beriman kecuali dengan mengambil darah sebagai tanda pada rumah-rumah dimana mereka tinggal
Keluaran 12:12-13:
Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.
10. ALKITAB berkata: Tuhan tidak tahu dimana manusia bersembunyi
Kejadian 3:9-11
“Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”
11. ALKITAB menyebutkan: Tuhan melanggar janji-Nya
Samuel I 2:30-31:
“Sebab itu–demikianlah firman TUHAN, Allah Israel–sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang–demikianlah firman TUHAN–:Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah. Sesungguhnya akan datang waktunya, bahwa Aku akan mematahkan tangan kekuatanmu dan tangan kekuatan kaummu, sehingga tidak ada seorang kakek dalam keluargamu.”
Tuhan sangat jauh dari tudingan palsu ini. Misalnya, Tuhan disebutkan berjanji kepada Eli bahwa masa kependetaannya akan berlangsung selamanya, baginya dan keturunannya, namun kemudian Dia tidak memenuhi janji tersebut.
Juga dalam Samuel I 13: 13-14:
“Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”
Tuhan sangat suci dari tuduhan lancung ini, misalnya berjanji kepada Saul bahwa kerajaannya akan langgeng, namun kemudian melanggar janji tersebut dan memberikan kerajaan Samuel kepada orang lain.
12. ALKITAB menyebutkan: Tuhan itu bodoh dan lemah
Korintus I 1:25:
“Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.”
13. ALKITAB menyebutkan: Tuhan bersedih hati
Samuel I 15:10:
“Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.
14. ALKITAB menyebutkan: Tuhan bertobat
Keluaran 32:14
“Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.”
15. ALKITAB menyebutkan: Tuhan merasa menyesal atas apa yang telah Dia lakukan
Kejadian 6:6-7
“Maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”
16. Dikatakan Tuhan telah bergulat dengan seorang manusia
Kejadian 32:24-30:
“Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub. Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!”
17. Tuhan berkata dusta, sementara seekor ular berkata jujur
Kejadian 3:3-5
“Tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
Ayat ini lebih jauh mengatakan bahwa Adam dan Hawa memakan buah terlarang tersebut dan kejadian-kejadian yang terjadi yang, sejatinya, tidak dapat disandarkan kepada Tuhan.
18. ALKITAB menyebutkan: Tuhan turun dari surga untuk mengacaubalaukan persatuan umat manusia
Dalam kitab Kejadian 11:1-9, disebutkan bahwa Tuhan telah turun dari surga untuk memecahkan persatuan di antara manusia untuk membuat mereka tidak memahami bahasa mereka satu dengan yang lain. Apakah atas alasan itu Tuhan takut terhadap persatuan mereka?
“Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.
Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.” Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.”
19. Tuhan bertentangan dengan dirinya dalam perbuatan-Nya
Kejadian 6:3:
“Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”
Mari kita merujuk kitab Kejadian 9:28 untuk melihat apakah Tuhan mengikuti firman-Nya atau Dia bertentangan dengan dirin-Nya sendiri:
“Nuh masih hidup tiga ratus lima puluh tahun sesudah air bah. Jadi Nuh mencapai umur sembilan ratus lima puluh tahun, lalu ia mati.”
Kemudian menjadi jelas bahwa 120 tahun telah lewat dari usia yang ditentukan Tuhan bagi manusia.
20. Tuhan digambarkan sebagai seorang malaikat, atau sebaliknya
Kejadian 16:9-13:
“Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya.” Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.” Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.” Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?”
Bagaimana mungkin stetment-stetmen ini dapat disebut sebagai Gospel atau Wahyu? Akal sehat kita sendiri menegaskan bahwa hal sedemikian tidak dapat terjadi. Sifat-sifat seperti ini tidak dapat disandarkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Oleh karena itu stetment-stetment seperti ini adalah seluruhnya keliru.
Kedepan, untuk bahan perbandingan, kami akan suguhkan kepada Anda konsep Tuhan dalam al-Qur’an untuk melihat bagaimana Islam mencirikan dan menyifatkan Tuhan. Terdapat persamaan dan tentu saja perbedaan menyolok antaran konsep ketuhanan dalam ALKITAB dan konsep Ketuhanan dalam al-Qur’an. [
Dipetik dari: www.wisdoms4all.com/ind ]
Wartawan yang sekarang lebih banyak makan hati daripada menulis apa yang tulus dari hati. Idea kebebasan akhbar yang sudah lama dibakul sampah atau hanya hanya bergema dalam forum Kebebasan Akhbar sahaja setiap tahun.. Atau hanya sekadar cari makan. Tetapi dalam realiti berbeza, idealisme mesti terus diperjuangkan.
Thursday, March 05, 2009
Sunday, November 02, 2008
Kewartawanan Babun?
Utusan kena lagi. Kali ini ekoran laporan Mingguan Malaysia yang dikatakan memanipulasikan kenyataan Hadi Awang berkaitan perlantikan Low Siew Moi sebagai Pemangku Pengurus Besar PKNS.
Menarik juga ulasan saudara Bakar dalam http://penarikbeca.blogspot.com/2008/11/kewartawanan-babun-utusan.html
Agaknya susah sangat nak suruh Hadi Awang membuat pendirian. Pas Selangor dah buat pendirian. Hadi Awang baru balik dari Pakistan, sebab itu perlu mendapatkan penjelasan. Tak kan Dr. Hassan Ali tak maklumkan isu itu kepada Hadi. Ini isu negeri, biasanya pendirian Pas negeri juga perlu diambil kira.
Malah Hadi juga tidak berani membuat pendirian berkaitan ekuiti 30 peratus Bumiputera. Perlu tunggu penjelasan dari Selangor juga ke? Bukankah ini isu nasional yang memerlukan pendirian jelas daripada seorang pemimpin parti Islam yang teras sokongannya Melayu/Islam?
Terima kasih kepada Harakahdaily, siarkan transkrip penuh Hadi Awang yang saya yakin tiada suntingan.
Lee: Dato' Seri boleh komen sikit tak itu.. isu Low Siew Moi dilantik sebagai pemangku PKNS nampak...aaa...bantahan dari PAS Selangor.
DS Hadi: Saya baru balik daripada luar negara baru,aaa... sehari, tak dapat maklumat, dan saya memerlukan maklumat dari kawan-kawan Selangor, tak boleh beri...komen.
Lee: Pasal dia kata...bantah sebab bukan Melayu.
DS Hadi: Iya...Saya kena dengar dari Selangor dulu.
D W Mutalib: Pelantikan tu pemangku kan.
Lee: aa...pemangku.
D W Mutalib: it is acting...so..its not a final decision.
DS Hadi: Aaa..Kalau pemangku itu boleh.
Lee : Maknanya kalau pemangku itu boleh terimalah ke macamana?
DS Hadi: Saya kena dengar keputusan Selangor dulu.
Lee: Sama dengan isu pemansuhan saham 30% Bumiputera, dapat tentangan dari PAS juga, So...macamana?
DS Hadi: Itu juga saya mesti dapat penjelasan dari Selangor, kita tunggu baru balik dari luar negara, tak pergi lagi...apa nama ni...pejabat di Kuala Lumpur.
Lee: Dato' Seri beri komen secara am lah, kalau seseorang itu tidak diterima sebab dia bukan Islam, dilantikkan jawatan ini kalau disebabkan dia bukan Islam, so...alasan diberikan...
DS Hadi: Sekarang.. semua pihak telah menerima sama ada PKR ataupun DAP, teras pemerintahan dan pentadbiran Negara mestilah orang Melayu Islam...sudah diterima..dalam masa yang sama tidak menafikan peranan semua kaum yang ada dalam negara ini...itu asas umum.
Sahafiye: Perlukah wartawan mengajar pemimpin bercakap? Kerana macam mana nak buat story kalau dah cakap tak konsisten dan tak jelas.
Menarik juga ulasan saudara Bakar dalam http://penarikbeca.blogspot.com/2008/11/kewartawanan-babun-utusan.html
Agaknya susah sangat nak suruh Hadi Awang membuat pendirian. Pas Selangor dah buat pendirian. Hadi Awang baru balik dari Pakistan, sebab itu perlu mendapatkan penjelasan. Tak kan Dr. Hassan Ali tak maklumkan isu itu kepada Hadi. Ini isu negeri, biasanya pendirian Pas negeri juga perlu diambil kira.
Malah Hadi juga tidak berani membuat pendirian berkaitan ekuiti 30 peratus Bumiputera. Perlu tunggu penjelasan dari Selangor juga ke? Bukankah ini isu nasional yang memerlukan pendirian jelas daripada seorang pemimpin parti Islam yang teras sokongannya Melayu/Islam?
Terima kasih kepada Harakahdaily, siarkan transkrip penuh Hadi Awang yang saya yakin tiada suntingan.
Lee: Dato' Seri boleh komen sikit tak itu.. isu Low Siew Moi dilantik sebagai pemangku PKNS nampak...aaa...bantahan dari PAS Selangor.
DS Hadi: Saya baru balik daripada luar negara baru,aaa... sehari, tak dapat maklumat, dan saya memerlukan maklumat dari kawan-kawan Selangor, tak boleh beri...komen.
Lee: Pasal dia kata...bantah sebab bukan Melayu.
DS Hadi: Iya...Saya kena dengar dari Selangor dulu.
D W Mutalib: Pelantikan tu pemangku kan.
Lee: aa...pemangku.
D W Mutalib: it is acting...so..its not a final decision.
DS Hadi: Aaa..Kalau pemangku itu boleh.
Lee : Maknanya kalau pemangku itu boleh terimalah ke macamana?
DS Hadi: Saya kena dengar keputusan Selangor dulu.
Lee: Sama dengan isu pemansuhan saham 30% Bumiputera, dapat tentangan dari PAS juga, So...macamana?
DS Hadi: Itu juga saya mesti dapat penjelasan dari Selangor, kita tunggu baru balik dari luar negara, tak pergi lagi...apa nama ni...pejabat di Kuala Lumpur.
Lee: Dato' Seri beri komen secara am lah, kalau seseorang itu tidak diterima sebab dia bukan Islam, dilantikkan jawatan ini kalau disebabkan dia bukan Islam, so...alasan diberikan...
DS Hadi: Sekarang.. semua pihak telah menerima sama ada PKR ataupun DAP, teras pemerintahan dan pentadbiran Negara mestilah orang Melayu Islam...sudah diterima..dalam masa yang sama tidak menafikan peranan semua kaum yang ada dalam negara ini...itu asas umum.
Sahafiye: Perlukah wartawan mengajar pemimpin bercakap? Kerana macam mana nak buat story kalau dah cakap tak konsisten dan tak jelas.
Tuesday, September 23, 2008
ISA - Ada berani masuk dalam?
Kini wartawan juga mungkin boleh ditahan hanya kerana menulis atau melaporkan apa yang didengarnya. Terutama ahli politik, berhati-hatilah bila mendengar mereka berkata. Hari ini boleh cakap begini, esok mungkin bertukar lain. Atau senang saja dakwa media putar belit. Tidak kira ahli politik kerajaan atau pembangkang. Mereka sama saja.
Mereka yang masih di dalam;
Yazid Sufaat, Suhaimi Mokhtar, Dr Abdullah Daud, Shamsuddin Sulaiman, Mat Shah Mohd Satray, Abdul Murad Sudin, Zaini Zakaria, Zainun Rashid, Wan Amin Wan Hamat, Sulaiman Suramin, Sufian Salih, Mohd Khaider Kadran, Hasim Talib, Zakaria Samad, Ahmad Zakaria, Terhamid Dahalan, Abdul Rahman Ahmad, Mahfudi Saifudin, Mulyadi, Arifin, Mat Tarmizi Zakaria, Artas Burhanudin, Francis Indanan, Mohd Nazri Dollah, Mohd Arsad Patangari, Adzmi Pindatun, Idris Lanama, Aboud Ghafar Shahril, Jeknal Adil, Binsali Omar, Husin Alih, Yussof Mohd Salam, Ahmad Jamal Azahari, Pakana Selama, Kasem Dayama, Shaykinar Guat, Argadi Andoyok, Ng How Chuang, Ng Keat Seng, Mohd Azuan Aniffa, Mohd Faizol Shamsuddin, Zulfikli Abu Bakar, Zulfikli Marzuki, Amir Hussain, Mohd Nasir Ismail, Ahmad Kamil Hanafiah, Muh Amir Hanafiah, Tan Choon Chin, Mavalavan, Lian Kok Heng, Sundaraj Vijay, San Khaing, Shadul Islam, Abdul Sattar Sarjoon, Faycal Mamdouh, Mohamad Nakhrakhel, Muhammad Shuaib Hazral Bilal, Muhammad Zahid Zahir Shah, T Vasanthakumar, P Uthayakumar, R Kenghadharan, V Ganabatirau, M Manoharan,RAJA PETRA KAMARUDIN!
Mereka yang masih di dalam;
Yazid Sufaat, Suhaimi Mokhtar, Dr Abdullah Daud, Shamsuddin Sulaiman, Mat Shah Mohd Satray, Abdul Murad Sudin, Zaini Zakaria, Zainun Rashid, Wan Amin Wan Hamat, Sulaiman Suramin, Sufian Salih, Mohd Khaider Kadran, Hasim Talib, Zakaria Samad, Ahmad Zakaria, Terhamid Dahalan, Abdul Rahman Ahmad, Mahfudi Saifudin, Mulyadi, Arifin, Mat Tarmizi Zakaria, Artas Burhanudin, Francis Indanan, Mohd Nazri Dollah, Mohd Arsad Patangari, Adzmi Pindatun, Idris Lanama, Aboud Ghafar Shahril, Jeknal Adil, Binsali Omar, Husin Alih, Yussof Mohd Salam, Ahmad Jamal Azahari, Pakana Selama, Kasem Dayama, Shaykinar Guat, Argadi Andoyok, Ng How Chuang, Ng Keat Seng, Mohd Azuan Aniffa, Mohd Faizol Shamsuddin, Zulfikli Abu Bakar, Zulfikli Marzuki, Amir Hussain, Mohd Nasir Ismail, Ahmad Kamil Hanafiah, Muh Amir Hanafiah, Tan Choon Chin, Mavalavan, Lian Kok Heng, Sundaraj Vijay, San Khaing, Shadul Islam, Abdul Sattar Sarjoon, Faycal Mamdouh, Mohamad Nakhrakhel, Muhammad Shuaib Hazral Bilal, Muhammad Zahid Zahir Shah, T Vasanthakumar, P Uthayakumar, R Kenghadharan, V Ganabatirau, M Manoharan,RAJA PETRA KAMARUDIN!
Friday, September 19, 2008
Persidangan Dwi Tahunan NUJM 22 September 2008
Sempena Persidangan Dwi Tahunan NUJM ke-16 di Shah Village Hotel pada 22 September ini, akhbar dalam talian yang baru muncul menyediakan artikel yang agak menarik. Sila klik http://thenutgraph.com/contesting-the-nuj.
Saudari Ooi Ying Nee menyifatkan saya bercakap macam orang politik. Saya tidak sedar pula saya bercakap macam orang politik.
Apa pun terima kasih pada Ooi kerana sudi mencatatkan pandangan saya yang dikatakan `a relative unknown in journalism and in the NUJ.
Bagaimanapun saya rasa semacam ada cabaran besar buat saya apabila beliau menyatakan `but he could be the catalyst for much-needed revivalism within the union at a time when the press are facing constant pressures to toe the government line.
Sudah pasti pencapaian dan pengalaman saya ibarat `langit dan bumi' berbanding Norela. Saya setakat dua tahun memegang jawatan Pengerusi NUJ-UM. Pada mulanya saya hanya mahu terlibat secara low profile dalam NUJ iaitu sekadar menjadi Exco walaupun pada pemilihan 2002 saya menang besar bagi jawatan Exco.
Setelah Setiausaha Cawangan NUJ-UM, Khalid Norshah yang kini aktif dalam aktiviti Dinar Emas meninggalkan Utusan Malaysia, saya diminta untuk mengisi jawatan itu setelah tiada exco cawangan yang mahu mengambil jawatan itu.
Dari situ saya mula belajar menguruskan kesatuan dengan mengunakan sepenuhnya pengalaman ketika berada di kampus dahulu. Dan ketika pemilihan cawangan pada 2006, desakan daripada akar umbi meminta saya memimpin cawangan begitu kuat lantas membuatkan saya bersetuju bertanding.
Meskipun ketika itu memang terdapat exco yang prasangka dengan keputusan saya itu dan Norela sendiri meminta saya memikirkan semula keputusan itu. Ada yang melihat kepimpinan saya selama dua tahun lalu banyak masalah apabila terdapat perpecahan. Puncanya kerana penghapusan skim gratuiti dalam Perjanjian Bersama (CA).
Tetapi sepanjang tempoh kepimpinan saya itu, saya mendapat sokongan majoriti ahli-ahli NUJ-UM dan sepanjang tempoh itu juga saya tidak meminggirkan Presiden NUJ. Keputusan pemilihan cawangan NUJ Utusan Malaysia Jun lalu sekali lagi jelas menunjukkan arus sokongan ahli-ahli NUJ-UM walaupun saya tidak bertanding.
Malah saya rasa ada hikmahnya dalam usaha meredakan masalah perpecahan apabila semua pihak diberikan peluang untuk berkhidmat dengan kesatuan.
Dan pada kali ini, saya menawarkan diri untuk ke Pusat. Saya anggap ia sebagai satu lagi pengembangan penglibatan saya dalam kesatuan dan dunia kewartawanan. Memang saya tidak dikenali dalam industri ini kerana saya baru bertapak.
Desakan ke pusat sudah timbul lama, sejak dari bekas Presiden NUJ-UM, Abdullah Tahir masih berkhidmat di Utusan Malaysia. Untuk beberapa ketika, Norela sentiasa mengingatkan bahawa beliau bersedia memberikan laluan sekiranya ada pemimpin baru yang tampil untuk menggantikannya.
Tetapi pemimpin baru itu tidak pernah ditunjuk apatah lagi tidak ada usaha untuk `groom' muka baru untuk menggantikannya. Saya memanglah bukan muka baru yang menjadi harapan beliau kerana tidak pernah beliau mengesyorkan saya ke Pusat melainkan ahli-ahli bawahan sahaja yang begitu memberikan kepercayaan kepada saya.
Tetapi entah kenapa apabila saya ingin bertanding Presiden, Norela meminta saya memberikan laluan kepadanya sehingga beliau bersara dan bersedia memberikan jawatan Bendahari Pusat sebagai persediaan saya ke Pusat.
Saya tidak memberikan apa-apa jawapan atas pemintaan itu sehinggalah pertandingan benar-benar terjadi. Masalahnya kenapa sekarang baru tawarkan saya jawatan ke Pusat setelah saya berhasrat `mencabar' beliau?
Apa pun kita nantikan 22 September ini apabila undi dikira. Sama ada menang atau kalah, saya tidak merasakan apa-apa kehilangan kerana saya hanya bergerak atas kehendak akar umbi. Kalau menang, memanglah kena kerja kuat dan jangan tinggalkan saya keseorangan di atas.
Kalau kalah, saya tetap akan buat sambutan bersama-sama ahli atas kesudian mereka membantu kempen pemilihan ini.
Saudari Ooi Ying Nee menyifatkan saya bercakap macam orang politik. Saya tidak sedar pula saya bercakap macam orang politik.
Apa pun terima kasih pada Ooi kerana sudi mencatatkan pandangan saya yang dikatakan `a relative unknown in journalism and in the NUJ.
Bagaimanapun saya rasa semacam ada cabaran besar buat saya apabila beliau menyatakan `but he could be the catalyst for much-needed revivalism within the union at a time when the press are facing constant pressures to toe the government line.
Sudah pasti pencapaian dan pengalaman saya ibarat `langit dan bumi' berbanding Norela. Saya setakat dua tahun memegang jawatan Pengerusi NUJ-UM. Pada mulanya saya hanya mahu terlibat secara low profile dalam NUJ iaitu sekadar menjadi Exco walaupun pada pemilihan 2002 saya menang besar bagi jawatan Exco.
Setelah Setiausaha Cawangan NUJ-UM, Khalid Norshah yang kini aktif dalam aktiviti Dinar Emas meninggalkan Utusan Malaysia, saya diminta untuk mengisi jawatan itu setelah tiada exco cawangan yang mahu mengambil jawatan itu.
Dari situ saya mula belajar menguruskan kesatuan dengan mengunakan sepenuhnya pengalaman ketika berada di kampus dahulu. Dan ketika pemilihan cawangan pada 2006, desakan daripada akar umbi meminta saya memimpin cawangan begitu kuat lantas membuatkan saya bersetuju bertanding.
Meskipun ketika itu memang terdapat exco yang prasangka dengan keputusan saya itu dan Norela sendiri meminta saya memikirkan semula keputusan itu. Ada yang melihat kepimpinan saya selama dua tahun lalu banyak masalah apabila terdapat perpecahan. Puncanya kerana penghapusan skim gratuiti dalam Perjanjian Bersama (CA).
Tetapi sepanjang tempoh kepimpinan saya itu, saya mendapat sokongan majoriti ahli-ahli NUJ-UM dan sepanjang tempoh itu juga saya tidak meminggirkan Presiden NUJ. Keputusan pemilihan cawangan NUJ Utusan Malaysia Jun lalu sekali lagi jelas menunjukkan arus sokongan ahli-ahli NUJ-UM walaupun saya tidak bertanding.
Malah saya rasa ada hikmahnya dalam usaha meredakan masalah perpecahan apabila semua pihak diberikan peluang untuk berkhidmat dengan kesatuan.
Dan pada kali ini, saya menawarkan diri untuk ke Pusat. Saya anggap ia sebagai satu lagi pengembangan penglibatan saya dalam kesatuan dan dunia kewartawanan. Memang saya tidak dikenali dalam industri ini kerana saya baru bertapak.
Desakan ke pusat sudah timbul lama, sejak dari bekas Presiden NUJ-UM, Abdullah Tahir masih berkhidmat di Utusan Malaysia. Untuk beberapa ketika, Norela sentiasa mengingatkan bahawa beliau bersedia memberikan laluan sekiranya ada pemimpin baru yang tampil untuk menggantikannya.
Tetapi pemimpin baru itu tidak pernah ditunjuk apatah lagi tidak ada usaha untuk `groom' muka baru untuk menggantikannya. Saya memanglah bukan muka baru yang menjadi harapan beliau kerana tidak pernah beliau mengesyorkan saya ke Pusat melainkan ahli-ahli bawahan sahaja yang begitu memberikan kepercayaan kepada saya.
Tetapi entah kenapa apabila saya ingin bertanding Presiden, Norela meminta saya memberikan laluan kepadanya sehingga beliau bersara dan bersedia memberikan jawatan Bendahari Pusat sebagai persediaan saya ke Pusat.
Saya tidak memberikan apa-apa jawapan atas pemintaan itu sehinggalah pertandingan benar-benar terjadi. Masalahnya kenapa sekarang baru tawarkan saya jawatan ke Pusat setelah saya berhasrat `mencabar' beliau?
Apa pun kita nantikan 22 September ini apabila undi dikira. Sama ada menang atau kalah, saya tidak merasakan apa-apa kehilangan kerana saya hanya bergerak atas kehendak akar umbi. Kalau menang, memanglah kena kerja kuat dan jangan tinggalkan saya keseorangan di atas.
Kalau kalah, saya tetap akan buat sambutan bersama-sama ahli atas kesudian mereka membantu kempen pemilihan ini.
Media masih diancam saman mega
Secara peribadi saya mengambil perhatian di atas beberapa perkembangan yang melanda industri persurakhabaran di sering diancam oleh beberapa undang-undang- yang boleh menyekat kebebasan dan mendedahkan sesebuah syarikat akhbar dikenakan saman mega.
Kita baru dikejutkan dengan penangkapan wartawan Sin Chew di bawah ISA kerana `keberanianya' melaporkan ucapan yang berbau perkauman.
Meskipun selama ini ramai wartawan banyak mengambil sikap `self censorship', dalam beberapa keadaan tertentu kadang-kala suatu berita yang ada nilai berita perlu juga dilaporkan. Kita boleh tulis apa saja atas dasar kebenaran tetapi perlu berfikir dua kali, kalau tidak disiarkan, kita sendiri rasa kecewa.
Misalnya kalau buat liputan Tun Dr. Mahathir, memanglah kita seronok mendengar hujah dan kritikan negarawan itu, tetapi dalam hati sering berkata, ``bolehkah aku tulis semuanya'.
Terkini pula Utusan Malaysia menghadapi saman dari Teresa Kok dengan tuntutan samannya sebanyak RM30 juta dan hari ini pula Karpal Singh menfailkan saman RM10 juta.
Apa akan terjadi kepada nasib wartawan-wartawan jika syarikat terpaksa menanggung saman sebegitu besar.
Meskipun terdapat ralat dan permohonan maaf secara terbuka, itu belum cukup lagi untuk sesebuah syarikat akhbar terlepas daripada risiko dikenakan mega saman. Inilah yang perlu difikirkan ketika kerajaan sedang berusaha memperkenalkan Majlis Media.
Apakah wajar majlis tersebut wujud sedangkan media masih menghadapi pelbagai risiko sama ada ditahan ISA, dikenakan tindakan di bawah pelbagai akta termasuk disaman dan dalam masa yang sama diikat pula dengan peraturan di bawah majlis media.
Nampaknya interaksi masyarakat dengan media tidak seperti dulu. Kalau terdapat khilaf atau kesalahan, media dan masyarakat boleh saling memaafi dan kemudian hubungan dipulih kembali dengan media boleh membuat laporan positif ke atas pihak terbabit bagi memperbaiki keadaan.
Kadang kala kita boleh memberikan penghargaan kepada sesetengah ahli politik sama ada pembangkang atau kerajaan atau ahli perniagaan yang masih menghargai media yang banyak memberikan liputan. Tidak kira positif atau negatif.
Ini kerana kadang-kala berita yang bersifat negatif memberikan publisiti kepada sesetengah orang dan kemudian dia diberikan peluang untuk menjelaskan hal sebenar dalam laporan seterusnya.
Tetapi nampaknya keadaan itu tidak lagi berlaku hari ini. Bagi mereka media harus diberikan pengajaran.
Kita baru dikejutkan dengan penangkapan wartawan Sin Chew di bawah ISA kerana `keberanianya' melaporkan ucapan yang berbau perkauman.
Meskipun selama ini ramai wartawan banyak mengambil sikap `self censorship', dalam beberapa keadaan tertentu kadang-kala suatu berita yang ada nilai berita perlu juga dilaporkan. Kita boleh tulis apa saja atas dasar kebenaran tetapi perlu berfikir dua kali, kalau tidak disiarkan, kita sendiri rasa kecewa.
Misalnya kalau buat liputan Tun Dr. Mahathir, memanglah kita seronok mendengar hujah dan kritikan negarawan itu, tetapi dalam hati sering berkata, ``bolehkah aku tulis semuanya'.
Terkini pula Utusan Malaysia menghadapi saman dari Teresa Kok dengan tuntutan samannya sebanyak RM30 juta dan hari ini pula Karpal Singh menfailkan saman RM10 juta.
Apa akan terjadi kepada nasib wartawan-wartawan jika syarikat terpaksa menanggung saman sebegitu besar.
Meskipun terdapat ralat dan permohonan maaf secara terbuka, itu belum cukup lagi untuk sesebuah syarikat akhbar terlepas daripada risiko dikenakan mega saman. Inilah yang perlu difikirkan ketika kerajaan sedang berusaha memperkenalkan Majlis Media.
Apakah wajar majlis tersebut wujud sedangkan media masih menghadapi pelbagai risiko sama ada ditahan ISA, dikenakan tindakan di bawah pelbagai akta termasuk disaman dan dalam masa yang sama diikat pula dengan peraturan di bawah majlis media.
Nampaknya interaksi masyarakat dengan media tidak seperti dulu. Kalau terdapat khilaf atau kesalahan, media dan masyarakat boleh saling memaafi dan kemudian hubungan dipulih kembali dengan media boleh membuat laporan positif ke atas pihak terbabit bagi memperbaiki keadaan.
Kadang kala kita boleh memberikan penghargaan kepada sesetengah ahli politik sama ada pembangkang atau kerajaan atau ahli perniagaan yang masih menghargai media yang banyak memberikan liputan. Tidak kira positif atau negatif.
Ini kerana kadang-kala berita yang bersifat negatif memberikan publisiti kepada sesetengah orang dan kemudian dia diberikan peluang untuk menjelaskan hal sebenar dalam laporan seterusnya.
Tetapi nampaknya keadaan itu tidak lagi berlaku hari ini. Bagi mereka media harus diberikan pengajaran.
Monday, September 15, 2008
Minggu yang mendebar, meletih dan menanti kejutan
Sejak berminggu-minggu sebenarnya Putrajaya ni takat suhunya sentiasa panas- bermula dengan kenyataan Ahmad yang menyebabkan Perdana Menteri rasa tidak gembira, disusuli kenyataan Muhyiddin Yassin yang dikatakan membuka satu fasa lagi rentak pemilihan UMNO. Ia membuatkan PM rasa terkejut.
Tidak lama sebelum itu, Jakim dan tiga lagi agensi Islam membuat laporan polis ke atas Raja Petra. Akhirnya kejutan seluruh negara apabila seorang wartawan Sin Chew ditahan di bawah ISA bersama Raja dan Teresa Kok.
Hari ini pula, tekak makin perit, macam ada gula-gula getah melekat kat tekak, bergegas ke pejabat Zaid Ibrahim, kecoh dia letak jawatan. Berhempas pulas lak kak Salmah, pegawai di pejabat Zaid kata tidak ada sidang akbar.
Berkejar pula ke rumah PM, dari satu pintu ke pintu...3.50 petang akhir mobil Zaid meluncur masuk ke rumah PM. Tunggu punya tunggu dia lepas keluar ikut pintu lain. Khabar menyatakan dia letak jawatan, SMS alert dah tersebar luas.
Malam ini pula Anwar kata seorang rakan di lokasi, macam yakin pula kerajaan akan berubah. Nampak gaya takat suhu kepanasan di anjung kuasa di Putrajaya ni semakin meningkat.
Aku pula tak sempat nak berkempen untuk pemilihan Presiden NUJM.
Tidak lama sebelum itu, Jakim dan tiga lagi agensi Islam membuat laporan polis ke atas Raja Petra. Akhirnya kejutan seluruh negara apabila seorang wartawan Sin Chew ditahan di bawah ISA bersama Raja dan Teresa Kok.
Hari ini pula, tekak makin perit, macam ada gula-gula getah melekat kat tekak, bergegas ke pejabat Zaid Ibrahim, kecoh dia letak jawatan. Berhempas pulas lak kak Salmah, pegawai di pejabat Zaid kata tidak ada sidang akbar.
Berkejar pula ke rumah PM, dari satu pintu ke pintu...3.50 petang akhir mobil Zaid meluncur masuk ke rumah PM. Tunggu punya tunggu dia lepas keluar ikut pintu lain. Khabar menyatakan dia letak jawatan, SMS alert dah tersebar luas.
Malam ini pula Anwar kata seorang rakan di lokasi, macam yakin pula kerajaan akan berubah. Nampak gaya takat suhu kepanasan di anjung kuasa di Putrajaya ni semakin meningkat.
Aku pula tak sempat nak berkempen untuk pemilihan Presiden NUJM.
Wednesday, September 03, 2008
Membetulkan kepalsuan sejarah
Sejarah sebenarnya tidak pernah menipu. Namun biasanya sejarah itu hanya ditulis oleh mereka yang menang. Mereka yang menang itulah yang mentafsirkan sejarah meskipun kadang-kala tersasar daripada hal yang sebenarnya.
Kalau sejarah Islam mengalami tafsiran berbeza, maka apatah lagi sejarah negara bangsa Malaysia yang baru mencecah 45 tahun dan merdekanya Tanah Melayu tanggal 31 Ogos 1957, 51tahun yang lalu.
Benar kalau dikatakan kita merdeka bukan dengan buluh runcing tapi di atas pena yang memutuskan terpisahnya belenggu ratusan tahun kuasa penjajah. Tetapi jalan merdeka itu tidak semudah disangka. Ranjau sepanjang jalan dan zaman dilalui para pejuang bangsa.
Tidak kira mereka itu kiri atau kanan, mereka adalah pejuang.
Biarpun ada hajat yang tidak kesampaian. Melayu Rayanya atau sampai dituduh bahaya dari Gunung,Ke hutan mereka lari, dituduh komunis, semua mereka adalah pejuang-pejuang tanah air ku.
31 Ogos tetap disambut, 16 September juga tetap disambut, kedua-duanya signifikan. Mengapa perlu bertelagah? Sebaliknya mampukah kita mempertahankannya, sehingga bila-bila selagi ada bulan dan bintang.
Kalau sejarah Islam mengalami tafsiran berbeza, maka apatah lagi sejarah negara bangsa Malaysia yang baru mencecah 45 tahun dan merdekanya Tanah Melayu tanggal 31 Ogos 1957, 51tahun yang lalu.
Benar kalau dikatakan kita merdeka bukan dengan buluh runcing tapi di atas pena yang memutuskan terpisahnya belenggu ratusan tahun kuasa penjajah. Tetapi jalan merdeka itu tidak semudah disangka. Ranjau sepanjang jalan dan zaman dilalui para pejuang bangsa.
Tidak kira mereka itu kiri atau kanan, mereka adalah pejuang.
Biarpun ada hajat yang tidak kesampaian. Melayu Rayanya atau sampai dituduh bahaya dari Gunung,Ke hutan mereka lari, dituduh komunis, semua mereka adalah pejuang-pejuang tanah air ku.
31 Ogos tetap disambut, 16 September juga tetap disambut, kedua-duanya signifikan. Mengapa perlu bertelagah? Sebaliknya mampukah kita mempertahankannya, sehingga bila-bila selagi ada bulan dan bintang.
"Maafkan saya" Kit Siang
03 Sep 2008 4:14PM
PEMIMPIN DAP, Lim Kit Siang petang ini menarik balik kenyataannya yang mendakwa akhbar arus perdana, khususnya Utusan Malaysia dan Berita Harian, tidak menyiarkan berita Timbalan Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak memohon maaf atas kenyataan ketua Umno Bukit Bendera, Datuk Ahmad Ismail yang didakwa berunsur perkauman.
Lim juga memohon maaf atas kesilapannya itu selepas dimaklumkan bahawa kedua-dua akhbar tersebut turut menyiarkan berita berkenaan.
Dalam kenyataannya sebelum ini, Lim mempertikaikan keikhlasan permohonan maaf Najib kerana beliau mendakwa berita mengenainya tidak disiarkan oleh akhbar arus perdana Melayu yang dimilik dan dikuasai oleh Umno, terutamanya Utusan Malaysia dan Berita Harian.
Lim juga lagi, semakan di laman web umum Bernama menunjukkan berita permohonan maaf oleh Najib itu dilaporkan dalam versi bahasa Inggeris, tetapi tidak dalam versi Bahasa Malaysia.
Bagaimanapun, semakan Malaysiakini di Kuala Lumpur mendapati berita tersebut turut disiarkan dalam akhbar Utusan Malaysia dan Berita Harian.
Laman web Utusan Online juga menyiarkan berita tersebut. Edisi langganan Bahasa Malaysia Bernama turut memuatkan berita permohonan maaf Najib walaupun tidak menerbitkan di laman web umumnya.
Ketika dihubungi untuk memaklumkan perkara itu, Lim berkata, beliau membaca akhbar-akhbar tersebut di Pulau Pinang dan mendapati berita tersebut tidak disiarkan.
Bagaimanapun semakan Malaysiakini mendapat kedua-dua akhbar berkenaan, yang dijual di negeri itu, memuatkan berita tersebut.
Lim kemudiannya menghubungi Malaysiakini petang ini untuk menarik kenyataanya mengenai perkara itu dan memohon maaf di atas kesilapannya itu. / Malaysiakini
Sahafiye dengan Kit Siang ni tak la berapa berminat sangat ekoran sikap tegarnya dalam menentang penubuhan negara Islam. Tapi hari ini apabila lihat Kit Siang meminta maaf kerana kesilapannya, saya rasa tertarik dengan sikap beliau.
Memang dalam Utusan Malaysia hari ini berita Datuk Najib meminta maaf bagi pihak UMNO ekoran ucapan berbau perkauman yang dilontar oleh seorang pemimpin UMNO bahagian semasa kempen di Permatang Pauh baru-baru ini disiarkan pada muka dua. Meskipun berita itu kecil yang mungkin Kit Siang tak perasan tapi ia diletakkan pada muka dua. Biasanya muka dua beerti story tersebut penting. Ya tidak sama kalau diletakan di paga belakang-belakang.
Tapi paling menariknya, nampaknya Kit Siang pun baca utusan, Terima kasih YB...dah tak boikot heee
03 Sep 2008 4:14PM
PEMIMPIN DAP, Lim Kit Siang petang ini menarik balik kenyataannya yang mendakwa akhbar arus perdana, khususnya Utusan Malaysia dan Berita Harian, tidak menyiarkan berita Timbalan Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak memohon maaf atas kenyataan ketua Umno Bukit Bendera, Datuk Ahmad Ismail yang didakwa berunsur perkauman.
Lim juga memohon maaf atas kesilapannya itu selepas dimaklumkan bahawa kedua-dua akhbar tersebut turut menyiarkan berita berkenaan.
Dalam kenyataannya sebelum ini, Lim mempertikaikan keikhlasan permohonan maaf Najib kerana beliau mendakwa berita mengenainya tidak disiarkan oleh akhbar arus perdana Melayu yang dimilik dan dikuasai oleh Umno, terutamanya Utusan Malaysia dan Berita Harian.
Lim juga lagi, semakan di laman web umum Bernama menunjukkan berita permohonan maaf oleh Najib itu dilaporkan dalam versi bahasa Inggeris, tetapi tidak dalam versi Bahasa Malaysia.
Bagaimanapun, semakan Malaysiakini di Kuala Lumpur mendapati berita tersebut turut disiarkan dalam akhbar Utusan Malaysia dan Berita Harian.
Laman web Utusan Online juga menyiarkan berita tersebut. Edisi langganan Bahasa Malaysia Bernama turut memuatkan berita permohonan maaf Najib walaupun tidak menerbitkan di laman web umumnya.
Ketika dihubungi untuk memaklumkan perkara itu, Lim berkata, beliau membaca akhbar-akhbar tersebut di Pulau Pinang dan mendapati berita tersebut tidak disiarkan.
Bagaimanapun semakan Malaysiakini mendapat kedua-dua akhbar berkenaan, yang dijual di negeri itu, memuatkan berita tersebut.
Lim kemudiannya menghubungi Malaysiakini petang ini untuk menarik kenyataanya mengenai perkara itu dan memohon maaf di atas kesilapannya itu. / Malaysiakini
Sahafiye dengan Kit Siang ni tak la berapa berminat sangat ekoran sikap tegarnya dalam menentang penubuhan negara Islam. Tapi hari ini apabila lihat Kit Siang meminta maaf kerana kesilapannya, saya rasa tertarik dengan sikap beliau.
Memang dalam Utusan Malaysia hari ini berita Datuk Najib meminta maaf bagi pihak UMNO ekoran ucapan berbau perkauman yang dilontar oleh seorang pemimpin UMNO bahagian semasa kempen di Permatang Pauh baru-baru ini disiarkan pada muka dua. Meskipun berita itu kecil yang mungkin Kit Siang tak perasan tapi ia diletakkan pada muka dua. Biasanya muka dua beerti story tersebut penting. Ya tidak sama kalau diletakan di paga belakang-belakang.
Tapi paling menariknya, nampaknya Kit Siang pun baca utusan, Terima kasih YB...dah tak boikot heee
Friday, August 22, 2008
Merjernihkan pemikiran Islam Liberal
Oleh HELMI MOHD. FOAD(WARTAWAN UTUSAN)
KEDANGKALAN ilmu terhadap pemikiran dan asas-asas ajaran Islam sering kali menjerumuskan umat Islam dalam pertelingkahan yang tidak kunjung padam. Adakalanya mereka tersepit antara amalan tradisi yang dianggap sebagai satu yang syarie.
Seperti bersumpah menjunjung al-Quran. Di satu pihak mempertahankannya bahawa itulah cara Islam, manakala ada pihak lain menganggap ia tiada dalam kamus Islam atau lebih menjengkelkan mendakwa ia adalah manipulasi politik.
Pertelingkahan juga muncul apabila pemikiran tradisi Islam bertembung dengan proses modenisasi yang disertakan dengan pelbagai konsepnya seperti demokrasi, globalisasi dan kebebasan hak asasi.
Sampai di sudut ini, maka mula kita bertanya di manakah Islam untuk mengambil peranannya lantas mendahului pemikiran dan memimpin tindakan. Dalam hal ini, Islam telah bersiap sedia untuk menghadapinya apabila setiap disiplin ilmu terdapat prinsip, kerangka dan metodologinya tersendiri yang bertunjang kepada nas syarie, al-Quran dan sunnah.
Para ulama meletakkan asas-asas metodologi penting, bagaimana berinteraksi dengan isu-isu pemikiran, aqidah, hukum, kemasyarakatan, maslahat dan sebagainya. Maka dari situ Islam berdiri teguh dengan hujah-hujah sama ada naqli atau aqli.
Datanglah apa saja cabaran, intelektual dan pendokong Islam tidak harus gentar kerana Islam tertegak dengan hujah. Cuma bersediakah mereka untuk menggalas cabaran itu termasuk berdepan dalam forum yang terbuka atau tertutup.
Ironinya, terdapat di kalangan umat Islam sekarang berusaha berbicara mengenai Islam tanpa asas kukuh dan tanpa metodologi yang mantap. Mereka berusaha membebaskan diri daripada dasaran hukum yang telah sedia terbina.
Bergantung semata-mata kepada maqasid al-syariah sehingga mengabaikan metodologi yang telah digariskan sehinggakan semua orang boleh bercakap tentang Islam tanpa mengira latar belakang keilmuannya.
Keadaan ini, sering kali dikaitkan dengan perkembangan atau pembudayaan pemikiran Islam liberal. Mungkin tidak dinamakan secara rasmi atau ada individu tertentu mengaku secara terbuka beliau adalah pendokong Islam liberal, namun pandangan-pandangan Islam liberal kian dirasai dewasa ini.
Misalnya, bolehkah kita menerima desakan-desakan kumpulan tertentu agar poligami diharamkan sedangkan ia jelas diharuskan oleh Islam. Ini kerana mempertahankan hukum tidak semestinya kita bersetuju untuk mengamalkannya.
Menyedari perkembangan ini, Persatuan Ulama Malaysia (PUM) pada Mesyuarat Perwakilan Tahunannya yang ke-29 akan memberikan fokus kepada usaha menangani pemikiran Islam liberal pada esok dan Sabtu ini di Institut Latihan Islam (ILIM), Bangi, Selangor.
Menurut Setiausaha Agungnya, Dr. Roslan Mohd. Nor berkata, tahun ini PUM memberikan penekanan kepada Islam liberal kerana mahu menjernihkan pemikiran-pemikiran yang tidak selari dengan asas-asas pemikiran Islam.
"Liberal di sini maksudnya mereka yang ingin merungkaikan diri mereka daripada nas-nas yang telah sedia ada atau mengeluarkan pandangan yang bertentangan dengan nas.
"Tetapi ini bukan bermakna kita menentang pemikiran-pemikiran liberal atau kebebasan bersuara, yang kita mahu ialah jangan sampai mencabar nas," katanya kepada Utusan Malaysia.
Beliau berkata, Islam liberal juga banyak dikaitkan dengan pemikiran pluralisme agama iaitu sehingga sampai peringkat menyama ratakan Islam dengan agamaagama lain.
Jelasnya, Islam tidak mempunyai masalah sekiranya pluralisme itu merujuk kepada kehidupan masyarakat majmuk dan mempunyai kepelbagaian.
MenghormatiIni kerana sejak awal lagi, Islam mahu penganutnya menghormati agama-agama lain di samping mengiktiraf kepelbagaian keturunan, ras atau bangsa sebagaimana yang terpancar dengan masyarakat awal Islam di Madinah.
"Apa yang kita faham mengenai pluralisme ialah kepelbagaian agama dan budaya itu tidak ada masalah dan ia juga sejajar dengan Perlembagaan Persekutuan.
"Tetapi sekiranya memahami Islam dengan cuba menyama ratakan semua agama, itu perlu dinilai," katanya.
Roslan berkata, bagi mengupas secara mendalam mengenai cabaran pemikiran Islam liberal, PUM dengan kerjasama Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim) akan menganjurkan Seminar Pemikiran Islam Peringkat Kebangsaan 2008 yang bertemakan "Menangani Pemikiran Islam Liberal di Malaysia" pada di ILIM.
Seminar dua hari ini akan dirasmikan oleh Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi.
Seminar tersebut bertujuan bagi memperjelaskan asas-asas dalam pemikiran Islam dan mengenal pasti penyelewengan dan penyimpangan fahaman Islam liberal daripada ajaran Islam di samping mengenal pasti usaha yang perlu diambil bagi membendung fahaman itu.
Roslan berkata, Yang Dipertua PUM, Datuk Syeikh Abdul Halim Abdul Kadir yang juga bekas Mufti Terengganu dijadual menyampaikan ucaptama bertema 'Kemelut Islam Liberal' antara lainnya mendedahkan kewujudan golongan yang cuba membebaskan diri mereka daripada penafsiran oleh para ulama dan cendekiawan Muslim yang sudah terbukti keilmuan mereka.
"Mereka ini seolah-olah tidak dapat membezakan ulasan-ulasan terhadap Islam, dari segi budaya dan perkara usul," katanya.
Pembentangan kertas-kertas kerja pada seminar tersebut akan membahaskan tentang Asas-Asas Utama Pemikiran Islam, Sejarah dan Metodologi Islam Liberal, Islam dan Liberalisme: Pandangan Tokoh Islam Liberal dan Fahaman Islam Liberal: Pengalaman Indonesia.
Ini termasuk menelusuri kemunculan Islam Liberal yang dikatakan bermula daripada liberalisme di Mesir dan Indonesia. Kertas-kertas yang dibentang bakal menelaah hasil kajian terhadap karya-karya tokoh liberalisme seperti Prof Dr. Hasan Hanafi dan Jamal al-Banna selain tokoh yang lebih lunak seperti Dr. Hamid Taher dan Dr. Hassan al-Mashat.
Seminar tersebut memberikan peluang kepada aktivis-aktivis Islam memenuhi dada dengan kefahaman yang mendalam terhadap Islam liberal bagi membolehkan mereka berada di gelanggang dengan penuh persediaan.
Kepada sesiapa yang berminat mengikuti seminar ini boleh menghubungi sekretariat seminar di talian 03-7955 4300 atau 019-384 2920 / 016-274 6550. -Utusan
KEDANGKALAN ilmu terhadap pemikiran dan asas-asas ajaran Islam sering kali menjerumuskan umat Islam dalam pertelingkahan yang tidak kunjung padam. Adakalanya mereka tersepit antara amalan tradisi yang dianggap sebagai satu yang syarie.
Seperti bersumpah menjunjung al-Quran. Di satu pihak mempertahankannya bahawa itulah cara Islam, manakala ada pihak lain menganggap ia tiada dalam kamus Islam atau lebih menjengkelkan mendakwa ia adalah manipulasi politik.
Pertelingkahan juga muncul apabila pemikiran tradisi Islam bertembung dengan proses modenisasi yang disertakan dengan pelbagai konsepnya seperti demokrasi, globalisasi dan kebebasan hak asasi.
Sampai di sudut ini, maka mula kita bertanya di manakah Islam untuk mengambil peranannya lantas mendahului pemikiran dan memimpin tindakan. Dalam hal ini, Islam telah bersiap sedia untuk menghadapinya apabila setiap disiplin ilmu terdapat prinsip, kerangka dan metodologinya tersendiri yang bertunjang kepada nas syarie, al-Quran dan sunnah.
Para ulama meletakkan asas-asas metodologi penting, bagaimana berinteraksi dengan isu-isu pemikiran, aqidah, hukum, kemasyarakatan, maslahat dan sebagainya. Maka dari situ Islam berdiri teguh dengan hujah-hujah sama ada naqli atau aqli.
Datanglah apa saja cabaran, intelektual dan pendokong Islam tidak harus gentar kerana Islam tertegak dengan hujah. Cuma bersediakah mereka untuk menggalas cabaran itu termasuk berdepan dalam forum yang terbuka atau tertutup.
Ironinya, terdapat di kalangan umat Islam sekarang berusaha berbicara mengenai Islam tanpa asas kukuh dan tanpa metodologi yang mantap. Mereka berusaha membebaskan diri daripada dasaran hukum yang telah sedia terbina.
Bergantung semata-mata kepada maqasid al-syariah sehingga mengabaikan metodologi yang telah digariskan sehinggakan semua orang boleh bercakap tentang Islam tanpa mengira latar belakang keilmuannya.
Keadaan ini, sering kali dikaitkan dengan perkembangan atau pembudayaan pemikiran Islam liberal. Mungkin tidak dinamakan secara rasmi atau ada individu tertentu mengaku secara terbuka beliau adalah pendokong Islam liberal, namun pandangan-pandangan Islam liberal kian dirasai dewasa ini.
Misalnya, bolehkah kita menerima desakan-desakan kumpulan tertentu agar poligami diharamkan sedangkan ia jelas diharuskan oleh Islam. Ini kerana mempertahankan hukum tidak semestinya kita bersetuju untuk mengamalkannya.
Menyedari perkembangan ini, Persatuan Ulama Malaysia (PUM) pada Mesyuarat Perwakilan Tahunannya yang ke-29 akan memberikan fokus kepada usaha menangani pemikiran Islam liberal pada esok dan Sabtu ini di Institut Latihan Islam (ILIM), Bangi, Selangor.
Menurut Setiausaha Agungnya, Dr. Roslan Mohd. Nor berkata, tahun ini PUM memberikan penekanan kepada Islam liberal kerana mahu menjernihkan pemikiran-pemikiran yang tidak selari dengan asas-asas pemikiran Islam.
"Liberal di sini maksudnya mereka yang ingin merungkaikan diri mereka daripada nas-nas yang telah sedia ada atau mengeluarkan pandangan yang bertentangan dengan nas.
"Tetapi ini bukan bermakna kita menentang pemikiran-pemikiran liberal atau kebebasan bersuara, yang kita mahu ialah jangan sampai mencabar nas," katanya kepada Utusan Malaysia.
Beliau berkata, Islam liberal juga banyak dikaitkan dengan pemikiran pluralisme agama iaitu sehingga sampai peringkat menyama ratakan Islam dengan agamaagama lain.
Jelasnya, Islam tidak mempunyai masalah sekiranya pluralisme itu merujuk kepada kehidupan masyarakat majmuk dan mempunyai kepelbagaian.
MenghormatiIni kerana sejak awal lagi, Islam mahu penganutnya menghormati agama-agama lain di samping mengiktiraf kepelbagaian keturunan, ras atau bangsa sebagaimana yang terpancar dengan masyarakat awal Islam di Madinah.
"Apa yang kita faham mengenai pluralisme ialah kepelbagaian agama dan budaya itu tidak ada masalah dan ia juga sejajar dengan Perlembagaan Persekutuan.
"Tetapi sekiranya memahami Islam dengan cuba menyama ratakan semua agama, itu perlu dinilai," katanya.
Roslan berkata, bagi mengupas secara mendalam mengenai cabaran pemikiran Islam liberal, PUM dengan kerjasama Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim) akan menganjurkan Seminar Pemikiran Islam Peringkat Kebangsaan 2008 yang bertemakan "Menangani Pemikiran Islam Liberal di Malaysia" pada di ILIM.
Seminar dua hari ini akan dirasmikan oleh Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi.
Seminar tersebut bertujuan bagi memperjelaskan asas-asas dalam pemikiran Islam dan mengenal pasti penyelewengan dan penyimpangan fahaman Islam liberal daripada ajaran Islam di samping mengenal pasti usaha yang perlu diambil bagi membendung fahaman itu.
Roslan berkata, Yang Dipertua PUM, Datuk Syeikh Abdul Halim Abdul Kadir yang juga bekas Mufti Terengganu dijadual menyampaikan ucaptama bertema 'Kemelut Islam Liberal' antara lainnya mendedahkan kewujudan golongan yang cuba membebaskan diri mereka daripada penafsiran oleh para ulama dan cendekiawan Muslim yang sudah terbukti keilmuan mereka.
"Mereka ini seolah-olah tidak dapat membezakan ulasan-ulasan terhadap Islam, dari segi budaya dan perkara usul," katanya.
Pembentangan kertas-kertas kerja pada seminar tersebut akan membahaskan tentang Asas-Asas Utama Pemikiran Islam, Sejarah dan Metodologi Islam Liberal, Islam dan Liberalisme: Pandangan Tokoh Islam Liberal dan Fahaman Islam Liberal: Pengalaman Indonesia.
Ini termasuk menelusuri kemunculan Islam Liberal yang dikatakan bermula daripada liberalisme di Mesir dan Indonesia. Kertas-kertas yang dibentang bakal menelaah hasil kajian terhadap karya-karya tokoh liberalisme seperti Prof Dr. Hasan Hanafi dan Jamal al-Banna selain tokoh yang lebih lunak seperti Dr. Hamid Taher dan Dr. Hassan al-Mashat.
Seminar tersebut memberikan peluang kepada aktivis-aktivis Islam memenuhi dada dengan kefahaman yang mendalam terhadap Islam liberal bagi membolehkan mereka berada di gelanggang dengan penuh persediaan.
Kepada sesiapa yang berminat mengikuti seminar ini boleh menghubungi sekretariat seminar di talian 03-7955 4300 atau 019-384 2920 / 016-274 6550. -Utusan
Thursday, August 07, 2008
STOP it Bar Council!!!!!!
Kalau hendakkan kebebasan memberikan pandangan, ini bukan caranya - bukan kita tidak tahu bagaimana perbincangan mengenai IFC yang dianjurkan oleh Bar Council di Bangi beberapa tahun lalu.
KENYATAAN MEDIA
PUM MEMBERI AMARAN KEPADA MAJLIS PEGUAM
UNTUK MENGHENTIKAN SEGERA PENGANJURAN
FORUM “MEMELUK ISLAM”
Persatuan Ulama’ Malaysia (PUM) membantah keras penganjuran Forum yang bertajuk ”Memeluk Islam” dan memberi amaran kepada Majlis Peguam supaya menghentikan segera penganjuran forum berkenaan yang dijadual diadakan pada 9 Ogos ini.
PUM berpandangan secara jelas forum berkenaan mempunyai agenda untuk mempertikaikan kedudukan Islam di dalam Perlembagaan sebagaimana yang termaktub di dalam Artikel 121(1A) Perlembagaan Persekutuan.
PUM berpandangan membahaskan hukum-hukum Islam, perundangan, sistem dan hak-hak orang-orang Islam yang terkandung dalam perlembagaan tanpa merujuk kepada pihak yang berauthoriti dan dikendali secara bertanggungjawab pasti akan mengakibatkan kekeliruan dan salah faham terhadap Islam.
PUM berpandangan tindakan berkenaan adalah suatu usaha yang terancang yang disusun oleh pihak tertentu untuk secara berterusan mempertikaikan hak-hak yang terkandung di dalam Perlembagaan terhadap Islam.
Sehubungan dengan itu, PUM memberi amaran kepada pihak Majlis Peguam agar menghentikan penganjuran forum berkenaan atau menghadapi tindakan penentangan serius oleh umat Islam di negara ini.
Yang benar,
DR. ROSLAN MOHD NOR
Setiausaha Agung
KENYATAAN MEDIA
PUM MEMBERI AMARAN KEPADA MAJLIS PEGUAM
UNTUK MENGHENTIKAN SEGERA PENGANJURAN
FORUM “MEMELUK ISLAM”
Persatuan Ulama’ Malaysia (PUM) membantah keras penganjuran Forum yang bertajuk ”Memeluk Islam” dan memberi amaran kepada Majlis Peguam supaya menghentikan segera penganjuran forum berkenaan yang dijadual diadakan pada 9 Ogos ini.
PUM berpandangan secara jelas forum berkenaan mempunyai agenda untuk mempertikaikan kedudukan Islam di dalam Perlembagaan sebagaimana yang termaktub di dalam Artikel 121(1A) Perlembagaan Persekutuan.
PUM berpandangan membahaskan hukum-hukum Islam, perundangan, sistem dan hak-hak orang-orang Islam yang terkandung dalam perlembagaan tanpa merujuk kepada pihak yang berauthoriti dan dikendali secara bertanggungjawab pasti akan mengakibatkan kekeliruan dan salah faham terhadap Islam.
PUM berpandangan tindakan berkenaan adalah suatu usaha yang terancang yang disusun oleh pihak tertentu untuk secara berterusan mempertikaikan hak-hak yang terkandung di dalam Perlembagaan terhadap Islam.
Sehubungan dengan itu, PUM memberi amaran kepada pihak Majlis Peguam agar menghentikan penganjuran forum berkenaan atau menghadapi tindakan penentangan serius oleh umat Islam di negara ini.
Yang benar,
DR. ROSLAN MOHD NOR
Setiausaha Agung
Monday, July 14, 2008
Wartawan mengancam keselamatan?
Belum pernah pengalaman sahafiye menjalankan liputan di Parlimen, rakan-rakan wartawan dihalang masuk ke bangunan yang mulia itu. Sila ruju laporan http://www.bernama.com/bernama/v3/bm/news.php?id=345924
Tapi inilah yang berlaku hari ini - 14 Julai 2008 dengan ibu kota bertukar wajah macam zone perang kata Datuk Seri Wan Azizah Wan Ismail, ketua barisan pembangkang yang gagal dalam usaha mereka melihat usul tidak percaya kepada PM diluluskan oleh Speaker Dewan Rakyat.
Polis yang paranoid ke? Walau apa pun dunia lihat Malaysia macam dah tak aman. Tahniahlah! Ramai yang naik angin kerana terpaksa masuk KL atau tersalah masuk KL hari ini.
Syed Hamid, Menteri Dalam Negeri terpaksa minta maaf.
Baru minggu lalu sahafiye dengar betul PM ingatkan agar jangan buat persepsi dan fitnah kerana ia perbuatan khianat kepada negara. Tapi ada pihak yang sengaja buat-buat khabar angin sendiri- kata ada demontrasi di ibu kota. Sendiri buat buat khabar sendiri susah. Dan rakyat juga susah.
Tapi inilah yang berlaku hari ini - 14 Julai 2008 dengan ibu kota bertukar wajah macam zone perang kata Datuk Seri Wan Azizah Wan Ismail, ketua barisan pembangkang yang gagal dalam usaha mereka melihat usul tidak percaya kepada PM diluluskan oleh Speaker Dewan Rakyat.
Polis yang paranoid ke? Walau apa pun dunia lihat Malaysia macam dah tak aman. Tahniahlah! Ramai yang naik angin kerana terpaksa masuk KL atau tersalah masuk KL hari ini.
Syed Hamid, Menteri Dalam Negeri terpaksa minta maaf.
Baru minggu lalu sahafiye dengar betul PM ingatkan agar jangan buat persepsi dan fitnah kerana ia perbuatan khianat kepada negara. Tapi ada pihak yang sengaja buat-buat khabar angin sendiri- kata ada demontrasi di ibu kota. Sendiri buat buat khabar sendiri susah. Dan rakyat juga susah.
Sunday, July 13, 2008
Mari mengutip berita di tepi jalan
``Utusan Malaysia boleh mengutip berita di tepi jalan,'' Demikian kata-kata seorang petugas PKR dipetik dari sebuah laporan ketika rakan sahafiye dihalang daripada membuat liputan ke atas Anwar Ibrahim tempoh hari.
Atas nama kebebasan media, parti yang selama ini perjuangkan kebebasan media bagaikan sudah dirasuk apabila terang-terang mengajak massa memboikot akhbar tempat Sahafiye berkhidmat. Sahafiye tak terasa sangat kalau ada orang ajak boikot akhbar suara keramat ini, tapi kalau dah sampai kata boleh kutip berita di tepi jalan, ini namanya menghina kerja-kerja golongan wartawan.
Memanglah kerja wartawan tidak semestinya duduk dalam bilik berhawa dingin, berkerusi empuk, tapi kadang-kala muktamar sahafiye ini (sidang akhbar) diadakan di tepi-tepi jalan. Nak kata pejuang jalanan macam puak-puak reformasi itu, kerja kami juga penuh cabaran.
Ada rakan sahafiye, kena pukul masa membuat liputan dekat lebuh raya Bukit Mahkota Cheras. Dan sahafiye juga masa ingat ketika mula-mula berkhidmat, 10 tahun yang lalu. Tugas budak-budak baru mesti buat tinjauan, masa tu tengah jerebu.
Melalui tinjauan jalanan itulah kami sahafiye menyebarkan keluhan dan keperitan rakyat yang terseksa akibat jerebu. Ketika orang lain mungkin duduk dalam mobil mewah dan kantor berhawa dingin, kami sahafiye `mengutip berita' di tepi jalan yang penuh jerebu.
Dan jangan lupa juga `story-story longkang' atau jalan-jalan berlopak yang dikarang oleh sahafiye-sahafiye. Jarang YB-YB nak turun padang kalau sekadar longkang tersumbat atau kadang-kala lambat sangat PBT nak bertindak bersihkan longkang tersumbat.
Tapi bila sahafiye buat story longkang atau jalan berlopak, tengok esok sudah pasti orang majlis akan segera bertindak.
Dan kepada YB-YB rajin-rajin lah turun ke longkang-longkang atau jalan-jalan, biar sahafiye ini kutip cerita-cerita YB dari tepi jalan, semoga rakyat makin sayang kat YB. Rakyat tak sayang kalau YB asyik bersyarah berdegar-degar tapi liat turun ke padang dan asyik duduk dalam bilik hawa dingin dan atas kerusi empuk.
Oleh itu marilah kita mengutip berita di tepi jalan daripada nyanyi dan terus menjilat....
Atas nama kebebasan media, parti yang selama ini perjuangkan kebebasan media bagaikan sudah dirasuk apabila terang-terang mengajak massa memboikot akhbar tempat Sahafiye berkhidmat. Sahafiye tak terasa sangat kalau ada orang ajak boikot akhbar suara keramat ini, tapi kalau dah sampai kata boleh kutip berita di tepi jalan, ini namanya menghina kerja-kerja golongan wartawan.
Memanglah kerja wartawan tidak semestinya duduk dalam bilik berhawa dingin, berkerusi empuk, tapi kadang-kala muktamar sahafiye ini (sidang akhbar) diadakan di tepi-tepi jalan. Nak kata pejuang jalanan macam puak-puak reformasi itu, kerja kami juga penuh cabaran.
Ada rakan sahafiye, kena pukul masa membuat liputan dekat lebuh raya Bukit Mahkota Cheras. Dan sahafiye juga masa ingat ketika mula-mula berkhidmat, 10 tahun yang lalu. Tugas budak-budak baru mesti buat tinjauan, masa tu tengah jerebu.
Melalui tinjauan jalanan itulah kami sahafiye menyebarkan keluhan dan keperitan rakyat yang terseksa akibat jerebu. Ketika orang lain mungkin duduk dalam mobil mewah dan kantor berhawa dingin, kami sahafiye `mengutip berita' di tepi jalan yang penuh jerebu.
Dan jangan lupa juga `story-story longkang' atau jalan-jalan berlopak yang dikarang oleh sahafiye-sahafiye. Jarang YB-YB nak turun padang kalau sekadar longkang tersumbat atau kadang-kala lambat sangat PBT nak bertindak bersihkan longkang tersumbat.
Tapi bila sahafiye buat story longkang atau jalan berlopak, tengok esok sudah pasti orang majlis akan segera bertindak.
Dan kepada YB-YB rajin-rajin lah turun ke longkang-longkang atau jalan-jalan, biar sahafiye ini kutip cerita-cerita YB dari tepi jalan, semoga rakyat makin sayang kat YB. Rakyat tak sayang kalau YB asyik bersyarah berdegar-degar tapi liat turun ke padang dan asyik duduk dalam bilik hawa dingin dan atas kerusi empuk.
Oleh itu marilah kita mengutip berita di tepi jalan daripada nyanyi dan terus menjilat....
Thursday, June 19, 2008
NUJ BERSATU
Kepada semua ahli NUJ-UM
Dengan segala hormatnya kami memohon sokongan anda sekelian agar memberikan sokongan kepada calon-calon NUJ BERSATU bagi pemilihan Ahli Jawatankuasa NUJ-UM 2008-2011.
Pilihlah dengan bijak bagi masa depan kita dan membentuk pasukan yang mantap bagi rundingan Perjanjian Bersama (CA 2008-2011)
NAIB PENGERUSI
1. MOHD NOOR BUJANG (Artis Grafik- Penyandang jawatan dan mempunyai pengalaman dalam exco sejak 2000)
SETIAUSAHA CAWANGAN
1. SAIFULIZAM MOHAMAD (Wartawan – Penyandang jawatan)
BENDAHARI CAWANGAN
1. HAJI YAZID ISMAIL (Artis Grafik) – Bekas pembaca pruf dan berpergalaman sebagai bendahari lebih tiga penggal)
AHLI JAWATANKUASA CAWANGAN
1.MUHAMMAD BASIR ABU BAKAR (Wartawan Kosmo! – Penyandang jawatan)
2. NOOR AZLINA JAAFAR ( Jurufoto – Penyandang jawatan)
3. BAHARUDDIN RESEH @ HJ YAACOB ( Artis Grafik - Penyandang jawatan)
6. MOHD NIZAM ABDULLAH (Wartawan Mingguan, dikenali sebagai Nizam Kring-kring, muka baru)
7. MAZLINA ABDUL MAJID ( Wartawan Kosmo!, muka baru)
8. WAN SYAMSUL AMLY WAN SEADEY (atau dikenali sebagai Tomok, Wartawan Utusan Malaysia)
SALAM HORMAT DARI
HELMI MOHD FOAD (PENGERUSI NUJUM 2006-2008)
0176567399
Dengan segala hormatnya kami memohon sokongan anda sekelian agar memberikan sokongan kepada calon-calon NUJ BERSATU bagi pemilihan Ahli Jawatankuasa NUJ-UM 2008-2011.
Pilihlah dengan bijak bagi masa depan kita dan membentuk pasukan yang mantap bagi rundingan Perjanjian Bersama (CA 2008-2011)
NAIB PENGERUSI
1. MOHD NOOR BUJANG (Artis Grafik- Penyandang jawatan dan mempunyai pengalaman dalam exco sejak 2000)
SETIAUSAHA CAWANGAN
1. SAIFULIZAM MOHAMAD (Wartawan – Penyandang jawatan)
BENDAHARI CAWANGAN
1. HAJI YAZID ISMAIL (Artis Grafik) – Bekas pembaca pruf dan berpergalaman sebagai bendahari lebih tiga penggal)
AHLI JAWATANKUASA CAWANGAN
1.MUHAMMAD BASIR ABU BAKAR (Wartawan Kosmo! – Penyandang jawatan)
2. NOOR AZLINA JAAFAR ( Jurufoto – Penyandang jawatan)
3. BAHARUDDIN RESEH @ HJ YAACOB ( Artis Grafik - Penyandang jawatan)
6. MOHD NIZAM ABDULLAH (Wartawan Mingguan, dikenali sebagai Nizam Kring-kring, muka baru)
7. MAZLINA ABDUL MAJID ( Wartawan Kosmo!, muka baru)
8. WAN SYAMSUL AMLY WAN SEADEY (atau dikenali sebagai Tomok, Wartawan Utusan Malaysia)
SALAM HORMAT DARI
HELMI MOHD FOAD (PENGERUSI NUJUM 2006-2008)
0176567399
Monday, June 16, 2008
Untuk kawan-kawan selamat meneruskan perjuangan
Salam,
Kepada rakan-rakan seperjuangan. Seperti mana yang saudara dimaklumkan, saya kali ini tidak dapat bertanding dalam pemilihan NUJ-UM bagi sesi 2008-2010 kerana atas sebab kesilapan teknikal pada borang pencalonan saya.
Saya terima dengan hati terbuka. Mungkin ada hikmah di sebaliknya. Kalian tetap perlu menjalankan tugas untuk memilih barisan kepimpinan untuk masa depan. Pilihlah pemimpin yang mampu menjalankan tugas dengan baik dan sentiasa prihatin dengan masalah anda dan bawa obor perjuangan kesatuan.
Membawa mandat anda dan bersedia mendengar rintihan anda. dan jadikan kesatuan kita organisasi yang dihormati.
Saya memohon maaf sekiranya sepanjang saya memimpin saya ada terkasar bahasa atau ada yang tidak menyenangkan rakan rakan sekelian. Mungkin ada perkara yang saya terlepas pandang tetapi saya sedaya mampu mengangkat ke atas segala aduan yang rakan-rakan kemukakan kepada kesatuan.
Kita selepas ini akan menghadapi cabaran besar terutama membabitkan rundingan CA. Saudara mesti bersatu padu bagi menjamin segala tuntutan yang dikemukakan dapat mencapai matlamat.
Salam. Salam Perjuangan.
Selawat!!!!
Kepada rakan-rakan seperjuangan. Seperti mana yang saudara dimaklumkan, saya kali ini tidak dapat bertanding dalam pemilihan NUJ-UM bagi sesi 2008-2010 kerana atas sebab kesilapan teknikal pada borang pencalonan saya.
Saya terima dengan hati terbuka. Mungkin ada hikmah di sebaliknya. Kalian tetap perlu menjalankan tugas untuk memilih barisan kepimpinan untuk masa depan. Pilihlah pemimpin yang mampu menjalankan tugas dengan baik dan sentiasa prihatin dengan masalah anda dan bawa obor perjuangan kesatuan.
Membawa mandat anda dan bersedia mendengar rintihan anda. dan jadikan kesatuan kita organisasi yang dihormati.
Saya memohon maaf sekiranya sepanjang saya memimpin saya ada terkasar bahasa atau ada yang tidak menyenangkan rakan rakan sekelian. Mungkin ada perkara yang saya terlepas pandang tetapi saya sedaya mampu mengangkat ke atas segala aduan yang rakan-rakan kemukakan kepada kesatuan.
Kita selepas ini akan menghadapi cabaran besar terutama membabitkan rundingan CA. Saudara mesti bersatu padu bagi menjamin segala tuntutan yang dikemukakan dapat mencapai matlamat.
Salam. Salam Perjuangan.
Selawat!!!!
Thursday, May 15, 2008
Hizbullah proved it is the strongest power in lebanon - isreal intelligence said
OCCUPIED JERUSALEM: Hizbullah proved last week that it is the strongest force in Lebanon and could have seized power if it had wanted to, Israel's military intelligence chief said in remarks published on Thursday. "Hizbullah did not intend to take control ... If it had wanted to, it could have done it," Major General Amos Yadlin said to the Haaretz newspaper.
Lebanon was rocked last week by the worst internal violence since the end of the 1975-1990 Civil War, which saw Hizbullah at its allies briefly seize western Beirut, routing its pro-government rivals.
But Yadlin said Hizbullah did not want to follow the example of the Palestinian Islamist movement Hamas, which seized power in the Gaza Strip in June by ousting the forces of pro-American Palestinian President Mahmoud Abbas.
Futher reading: http://www.dailystar.com.lb/article.asp?edition_id=1&categ_id=2&article_id=92091
Earlier, recently i wrote about how did hizbullah shows it signal to israel : http://www.utusan.com.my/utusan/arkib.asp?y=2008&dt=0514&pub=utusan_malaysia&sec=rencana&pg=re_08.htm&arc=hive
Lebanon was rocked last week by the worst internal violence since the end of the 1975-1990 Civil War, which saw Hizbullah at its allies briefly seize western Beirut, routing its pro-government rivals.
But Yadlin said Hizbullah did not want to follow the example of the Palestinian Islamist movement Hamas, which seized power in the Gaza Strip in June by ousting the forces of pro-American Palestinian President Mahmoud Abbas.
Futher reading: http://www.dailystar.com.lb/article.asp?edition_id=1&categ_id=2&article_id=92091
Earlier, recently i wrote about how did hizbullah shows it signal to israel : http://www.utusan.com.my/utusan/arkib.asp?y=2008&dt=0514&pub=utusan_malaysia&sec=rencana&pg=re_08.htm&arc=hive
Wednesday, May 07, 2008
Iran bantah
Bantah tayangan filem yang menghina rakyat Iran yang dijadual ditayangkan di AStro 25 Mei ini.
http://www2.irna.ir/en/news/view/line-22/0805064207121424.htm
http://www2.irna.ir/en/news/view/line-22/0805064207121424.htm
Monday, May 05, 2008
Kebebasan Media - kita di mana....
Hari kebebasan media. Ke mana kita. Mungkin ada wartawan sendiri yang tidak sedar 3 mei lalu adalah hari sambutan untuk mereka. Sahafiye sambutnya secara seorangan diri saja. Tak de pun hadiri mana-mana forum. Cuma bersama keluarga kerana kebetulan off day. Adalah terbaca kenyataan nujm kata minta kerajaan hapuskan OSA.
Sama saja tiap-tiap tahun asyik berforum saja.
Sama saja tiap-tiap tahun asyik berforum saja.
Sunday, April 20, 2008
Antara Perpaduan Melayu dan Perpaduan Islam
Entah tetiba selepas Pilihan Raya Umum Ke-12, mulalah kedengaran soal hendak kembali kepada perpaduan Melayu, soal ketuanan Melayu.
Retorika perpaduan berkekalan sepanjang zaman, sedangkan realitinya kita sendiri lupakan soal perpaduan ketika kita berada pada posisi yang sepatutnya.
Mengapa tidak memandang kepada dunia yang lebih luas, mari kita bicara soal perpaduan dunia Islam, soal penindasan dan agenda kuffar untuk menghancurkan Islam, -tidak kira melayu Islam, Arab Islam, Parsi Islam, Cina Islam, India Islam ....sunni atau syiah, pembantaian kuffar tidak mengenal wajah, kulit, bangsa dan mazhab.
Mencari asas titik pertemuan perpaduan.. nah buktikan di mana perpaduan kita umat Islam, wahai umat Melayu sekelian.
14 Mei ini genap 60 tahun penjajahan Israel ke atas bumi Islam Palestin, bumi yang dijajah selepas mereka merobek-robek empayar Islam di bumi Melayu.
Semua pemimpin Melayu boleh berdiri atas platfrom perjuangan Palestin untuk menyatakan penentangan kita umat Islam atas penjajahan dan penubuhan negara haram Israel itu.
Dan tiba juga masanya kita bercakap soal perpaduan yang melangkau sempadan mazhab dan negara. Sila lihat http://www.ammanmessage.com/ -pengesahan para tokoh dan pemimpin dunia Islam untuk sama-sama berlapang dada menerima antara satu sama lain, mengiktiraf persatuan umat dalam kepelbagaian fikrah dan mazhab. http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31
pergi kepada Malaysia-endorsement diberikan oleh Perdana Menteri, Dato’ Seri Abdullah bin Haji Ahmad Badawi ∫Prime Minister
Dr. Anwar Ibrahim § π Former Deputy Prime Minister
Dato’ Dr. Abdul Hamid Othman §Minister in the Office of the Prime Minister
Prof. Dr. Kamal Hasan ¶President of the Islamic International University, Kuala Lumpur
Prof. Dr. Mohammad Hashim Kamali § π Dean of the International Institute of Islamic Thought and Civilisation
Mr. Shahidan Kasem §First Minister of Perlis State, Malaysia
Mr. Khayri Jamal Al-Din §Deputy Chairman for the Youth Sector, the United Malays National Organisation
Dr. Salih Qadir Karim Al-Zanki *International Islamic University
Retorika perpaduan berkekalan sepanjang zaman, sedangkan realitinya kita sendiri lupakan soal perpaduan ketika kita berada pada posisi yang sepatutnya.
Mengapa tidak memandang kepada dunia yang lebih luas, mari kita bicara soal perpaduan dunia Islam, soal penindasan dan agenda kuffar untuk menghancurkan Islam, -tidak kira melayu Islam, Arab Islam, Parsi Islam, Cina Islam, India Islam ....sunni atau syiah, pembantaian kuffar tidak mengenal wajah, kulit, bangsa dan mazhab.
Mencari asas titik pertemuan perpaduan.. nah buktikan di mana perpaduan kita umat Islam, wahai umat Melayu sekelian.
14 Mei ini genap 60 tahun penjajahan Israel ke atas bumi Islam Palestin, bumi yang dijajah selepas mereka merobek-robek empayar Islam di bumi Melayu.
Semua pemimpin Melayu boleh berdiri atas platfrom perjuangan Palestin untuk menyatakan penentangan kita umat Islam atas penjajahan dan penubuhan negara haram Israel itu.
Dan tiba juga masanya kita bercakap soal perpaduan yang melangkau sempadan mazhab dan negara. Sila lihat http://www.ammanmessage.com/ -pengesahan para tokoh dan pemimpin dunia Islam untuk sama-sama berlapang dada menerima antara satu sama lain, mengiktiraf persatuan umat dalam kepelbagaian fikrah dan mazhab. http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31
pergi kepada Malaysia-endorsement diberikan oleh Perdana Menteri, Dato’ Seri Abdullah bin Haji Ahmad Badawi ∫Prime Minister
Dr. Anwar Ibrahim § π Former Deputy Prime Minister
Dato’ Dr. Abdul Hamid Othman §Minister in the Office of the Prime Minister
Prof. Dr. Kamal Hasan ¶President of the Islamic International University, Kuala Lumpur
Prof. Dr. Mohammad Hashim Kamali § π Dean of the International Institute of Islamic Thought and Civilisation
Mr. Shahidan Kasem §First Minister of Perlis State, Malaysia
Mr. Khayri Jamal Al-Din §Deputy Chairman for the Youth Sector, the United Malays National Organisation
Dr. Salih Qadir Karim Al-Zanki *International Islamic University
Sunday, April 13, 2008
Kebebasan akhbar tidak menimbulkan konflik
Di petik dari: Harakahdaily
KUALA LUMPUR, 13 April (Hrkh) - Kebebasan akhbar yang lebih meluas tidak akan mendatangkan konflik antara penulis blog dan media arus perdana sebaliknya akan membolehkan mereka menyatakan pemikiran mereka kepada orang ramai secara terbaik.
Menurut Editor Malaysiakini, S. Vicknesan berkata kebebasan akhbar memberi ruang kepada penulis blog untuk berbahas dan membincangkan sesuatu tajuk dengan lebih bebas.
"Sebab yang menimbulkan konflik antara penulis blog dan media sebelum ini ialah disebabkan terdapat anggapan bahawa media utama tidak melakukan tugas mereka," katanya dipetik Bernama semasa sesi soal jawab pada forum mengenai peranan akhbar, di sini semalam anjuran bersama Malaysia Think Tank London dan Institut Akhbar Malaysia.
Ia disertai Pengurus Besar Bernama, Dato' Azman Ujang, editor akhbar The Sun, Zainon Ahmad dan Ketua Pegawai Eksekutif Kumpulan KRA, Karim Raslan.
Vicknesan berkata sekiranya media arus perdana dibenarkan berlaku wajar dan terdapat kebebasan akhbar yang mencukupi di masa depan, orang ramai boleh mendapat gambaran sebenar apa yang sebenarnya berlaku dan tidak terlalu bergantung kepada penulis blog untuk mendapatkan berita.
Ditanya sama ada media perdana harus menukar cara laporan mereka, beliau berkata: "Saya tidak fikir mereka patut menukarnya kerana ia telah menepati prinsip kewartawanan. Hanya perubahan keseluruhan dari segi undang-undang akhbar dan naungan politik yang perlu diberi perhatian."
Karim pula berkata cabaran sebenar kepada media arus perdana sekarang ialah mereka perlu bebas.
"Wartawan dan editor kini bekerja dalam terlalu banyak kekangan," katanya. - mks.
KUALA LUMPUR, 13 April (Hrkh) - Kebebasan akhbar yang lebih meluas tidak akan mendatangkan konflik antara penulis blog dan media arus perdana sebaliknya akan membolehkan mereka menyatakan pemikiran mereka kepada orang ramai secara terbaik.
Menurut Editor Malaysiakini, S. Vicknesan berkata kebebasan akhbar memberi ruang kepada penulis blog untuk berbahas dan membincangkan sesuatu tajuk dengan lebih bebas.
"Sebab yang menimbulkan konflik antara penulis blog dan media sebelum ini ialah disebabkan terdapat anggapan bahawa media utama tidak melakukan tugas mereka," katanya dipetik Bernama semasa sesi soal jawab pada forum mengenai peranan akhbar, di sini semalam anjuran bersama Malaysia Think Tank London dan Institut Akhbar Malaysia.
Ia disertai Pengurus Besar Bernama, Dato' Azman Ujang, editor akhbar The Sun, Zainon Ahmad dan Ketua Pegawai Eksekutif Kumpulan KRA, Karim Raslan.
Vicknesan berkata sekiranya media arus perdana dibenarkan berlaku wajar dan terdapat kebebasan akhbar yang mencukupi di masa depan, orang ramai boleh mendapat gambaran sebenar apa yang sebenarnya berlaku dan tidak terlalu bergantung kepada penulis blog untuk mendapatkan berita.
Ditanya sama ada media perdana harus menukar cara laporan mereka, beliau berkata: "Saya tidak fikir mereka patut menukarnya kerana ia telah menepati prinsip kewartawanan. Hanya perubahan keseluruhan dari segi undang-undang akhbar dan naungan politik yang perlu diberi perhatian."
Karim pula berkata cabaran sebenar kepada media arus perdana sekarang ialah mereka perlu bebas.
"Wartawan dan editor kini bekerja dalam terlalu banyak kekangan," katanya. - mks.
Subscribe to:
Posts (Atom)
